Menurut PP Nomor 26 Tahun 2008, Kawasan bentang alam goa dan karst Adalah Kawasan Lindung. Unduh Peraturan Pemerintah tersebut. Cermati Pasal 52 ayat (5) huruf a, Pasal 53 ayat (1) huruf b, dan Pasal 60 Ayat (2) huruf c dan f
Menurut PP Nomor 26 Tahun 2008, Kawasan bentang alam goa dan karst Adalah Kawasan Lindung. Unduh Peraturan Pemerintah tersebut. Cermati Pasal 52 ayat (5) huruf a, Pasal 53 ayat (1) huruf b, dan Pasal 60 Ayat (2) huruf c dan f
Perbukitan batu gamping di sekitar perbatasan Kabupaten Grobogan dan Pati, Jawa Tengah, memiliki peran dan nilai yang sangat penting bagi ekosistem di kedua kabupaten tersebut. Peran dan nilai yang sebenarnya jauh lebih besar daripada anggapan bahwa nilai perbukitan itu hanya merupakan tumpukan batu gamping raksasa yang menunggu ditambang, dikeruk, diledakkan, dan dikirim ke pabrik semen atau pabrik-pabrik lainnya. Pengrusakan kawasan batu gamping ini akan memengaruhi ekosistem untuk daerah yang jauh lebih luas daripada perkiraan. Ujung- ujungnya, korban terakhirnya adalah umat manusia karena alam memiliki mekanisme pertahanan yang sempurna. Jika tekanan terhadap dirinya makin berat, maka dia akan menyeimbangkan dirinya dengan cara membuat bencana agar dapat mengurangi populasi manusia. Perbukitan batu gamping kawasan ini memiliki sifat-sifat kawasan karst.
Secara umum, gua-gua di area karst Tuban terbentuk pada masa phreatik. Pembentukannya berlangsung ketika masih berada dibawah waterlevel. Interpretasi ini diperoleh dari pengamatan secara visual, dimana hampir keseluruhan lorong gua yang ditelusuri selama penelitian merupakan gua dengan lorong yang bercabang-cabang dan saling terhubung satu dengan yang lain. Bentuk-bentuk percabangannya sangat tidak teratur. Tidak seperti pola-pola percabangan yang dibentuk oleh aliran permukaan. Selain itu, permukaan dinding gua relatif halus. Scallops, cekungan-cekungan kecil hasil pelarutan yang terbentuk pada batugamping, penciri khas pelarutan oleh aliran permukaan tidak ditemui.
Menjelang ulang tahun kemerdekaan RI yang ke-62, kami mendapat kehormatan untuk bergabung dengan tim Puslit Arkeologi Nasional yang masih melanjutkan penelitian di Liang Bua-Flores, tempat ditemukannya fosil manusia purba yang sempat menggemparkan dunia ilmu pengetahuan setelah diyakini sebagai hominid khas flores (homo floresiensis). Kedatangan kami ke Liang Bua tidak hanya sebatas untuk membantu masalah teknik di medan sulit saja, tetapi juga di minta untuk membantu menganalisa proses genesa Liang Bua dari sudut pandang speleolog, suatu hal yang cukup membanggakan setelah selama ini speleologi hanya dipandang sebelah mata oleh banyak pihak (terutama orang negeri sendiri).
Single Rope Technique (SRT) adalah teknik yang dipergunakan untuk untuk menelusuri gua-gua vertikal dengan menggunakan satu tali sebagai lintasan untuk naik dan turun medan-medan vertikal. Berbagai sistem telah berkembang sesuai dengan kondisi medan di tempat lahirnya masing-masing metode. Namun yang paling banyak dipergunakan adalah Frog Rig System.