| Written by Bagus Yulianto,
|
Views : 2647  |
Favoured : 59 |
Published in : , Perjalanan |
Ditulis untuk ASC News, Edisi Khusus Agustus 1995 Berdasarkan surat dari APS (Association Pyrenennee de Speleologie) Perancis yang menawarkan kerja sama dalam ekspedisi gabungan tim Perancis-Indonesia, maka ASC Yogayakarta mengirimkan dua anggotanya untuk bergabung dengan tim speleologi dari APS-Perancis tersebut. Ekspedisi ini merupakan ekspedisi kedua bagi ASC dan ekspedisi keempat bagi APS yang dilaksanakan di Sulawesi Selatan.
Ekspedisi 92 ini mempunyai beberapa tujuan, diantaranya adalah:
1. Menjalin kerjasama antara klub speleologi Indonesia dan Perancis. 2. Peningkatan kualitas anggota ASC dengan alih pengetahuan secara langsung, baik teknis maupun ilmiah dari ahli speleologi Perancis. 3. Survai daerah baru yang potensial sebagai lokasi penelitian speleologi. 4. Menerapkan sistem pelacakan gua secara terpadu dengan menggunakan peta geologi, foto udara, dan peta topografi guna melacak pola aliran di daerah karst dan keberadaan mulut gua. 5. Melacak, mendata, dan memetakan gua-gua baru di kawasan karst Sulawesi Selatan dan Tenggara. Ekspedisi ini berlangsung selama 20 hari, dan diikuti oleh 10 anggota tim dari APS dan 2 dari ASC dengan mengambil lokasi kegiatan di Maros, Sulawesi Selatan dan daerah Gunung Mekonga, Sulawesi Tenggara. Kegiatan di Sulawesi Tenggara Pelacakan gua di gunung Mekonga yang memiliki ketinggian 2790 m dpl dilaksanakan selama 3 hari. Kawasan karst yang terletak di sebelah utara Kabupaten Kolaka ini merupakan daerah tepi pantai, sedangkan kawasan Gunung Mekonga masih merupakan hutan lebat dan masih banyak ditemui binatang liar. Medan yang sangat terjal membuat kegiatan pelacakan sedikit mengalami kesulitan sehinga hanya dilakukan pada daerah tepi areal karst ini. Salah satu faktor penghambat adalah masyarakat yang memandang gua sebagai tempat yang sangat angker dan tidak semua orang bisa memasukinya, hal ini menyebabkan sulitnya mendapatkan penunjuk jalan yang mengetahui keberadaan gua-gua di daerah ini. Dari analisa peta topografi dan foto udara, diperkirakan adanya gua-gua yang panjang atau dalam, hal ini terbukti dengan adanya sungai besar yang mengalir dari Gunung Mekonga serta adanya mataair yang keluar dari gua dan terletak di tepi pantai. Beberapa gua yang dikunjungi adalah: 1. Mataair Tamborasi, meripakan resurgen yang keluar dari siphon dengan debit 2m3/detik. Untuk menelusurinya harus menggunakan peralatan selam. Temperatur air 21°C, termasuk dingin dibandingkan termperatur udara di kawasan ini. Oleh penduduk disebut sebagai sungai terpendek di Indonesia karena air hanya mengalir sepanjang 25 meter langsung masuk laut. 2. Gua vertikal tanpa nama yang terletak 15 meter dari jalan, dengan kedalaman sekitar 40 meter dan diameter mulut gua 5 meter. Gua ini tidak dimasuki karena susunan batuannya sangat rapuh. 3. Gua Rantebaru, merupakan ceruk besar di tengah bukit. Memiliki diameter 35 meter dan static pool. Airnya berwarna kehijauan karena mengandung jenis ganggang tertentu. Dicoba mengelilingi sepanjang dinding gua untuk mencari sump, tetapi tidak ditemukan. Pelacakan di kawasan karst Gunung Mekonga dilaksanakan 6 orang: Didier, Christian, Louis, Anne dari APS dan Bagus, Wiwid dari ASC. Base camp di rumah Bapak Kepala Desa Ladahai. Kegiatan di Sulawesi Selatan Kegiatan di Sulawesi Selatan dilakukan di Pengkadjene dan Camba, meliputi pelacakan dan pemetaan gua. Kegiatan ini dilakukan oleh 10 personel, 8 dari APS dan 2 dari ASC. Leang Assuloang. Gua pertama ini adalah Leang Assuloang. Leang berarti gua sedangkan Assuloang berasal dari kata suloh yang berarti lampu. Gua ini sebelumnya pernah dimasuki tim penelusur gua dari Italia tetapi belum selesai dipetakan. Oleh tim gabungan Perancis – Indonesia, Leang Assuloang dieksplorasi dalam tiga tahap. Tahap pertama mengadakan penelusuran selama 10 jam, berhasil menelusuri sehauh 2000 m dan dipetakan 600m. Dilakukan oleh Didier, Christian, Bagus, dan Wiwid. Tahap kedua, melakukan kegiatan selama dua hari. Pada hari pertama dibagi dua tim masing-masing 3 personel, dua dari APS dan satu dari ASC. Tim pertama memetakan 100m di tengah, tim kedua memetakan 1100m dari mulut gua sampai di tengah, kemudian tim bergabung dan melakukan pemetaan bersama sepanjang 200m. Menemukan sebuah sump kecil dan dicoba diselami ternyata berhasil dan ditemukan lorong baru disebaliknya. Lorong tersebut ditelusuri lagi sejauh 200m dan berakhir pada sebuah sump lagi. Kegiatan hari pertama selesai istirahat dan tidur di dekat entrance. Pada hari pertama ini anggota tim adalah Didier, J. Pierre, Daniel, Maxient, dari APS serta Bagus dan Wiwid dari ASC. Hari kedua mendapat tambahan 3 orang personnel dari APS, sehingga seluruhnya menjadi 9 orang. Tim kembali dibagi menjadi 2, berhasil menambah panjang menjadi 3800m, sebagian besar adalah sngai bawah tanah dan beberapa bagian mempunyai kedalaman 3 meter. Masih belum ditemukan akhir dari gua ini, diperkirakan masih panjang. Tahap ketiga dilaksanakan pada akhir ekspedisi, hanya melanjutkan penelusuran tanpa dipetakan, dilakukan oleh Maxient, Christian, Bagus, selama 11 jam. Masih merupakan sungai bawah tanah dengan beberapa kolam yang dalam. Panjang total yang sudah dieksplorasi tampai tahap ini sekitar 4800 meter. Gua Londron Gua Londron merupakan gua kedua yang disurvai, adalah sebuah resurgen yang dimanfaatkan airnya oleh pabrik semen Tnasa dan dipergunakan pula oleh penduduk sekitar. Gua ini sudah dipetakan oleh APS pada tahun 1990 tetapi belum selesai kerena terhalang sebuah air terjun setinggi 12 meter. Kami menggunakan perahu karet untuk menelusuri gua ini karena sepanjang 2 km merupakan sungai bawah tanah yang besar dengan kedalaman bervariasi antara 3-5 meter dan lebar lorong ada yang mencapai 8 meter. Penelusuran dilakukan selama dua hari dengan menginap di dalam gua. Berhasil menembus air terjun dengan membuat jalur traverse dan berhasil menambah panjang peta 800 meter. Panjang total dari gua ini mencapai 3500 meter. Leang Leaputte Gua ini menjadi target terakhir dalam ekspedisi Indonesie’92. Dari analisis foto udara yang terlihat sebuah noktah hitam yang diperkirakan adalah mulut sebuah gua vertikal dengan diameter 100 meter. Pada tahun 89 ASC pernah mencoba melacaknya, tetapi karena letaknya ditengah hutan dan terbatasnya waktu, gua ini belum dapat ditemukan. Tim APS juga pernah melacaknya pada tahun 90, bahkan sudah mendekati lokasinya tetapi karena salah arah, gua ini belum ditemukan. Akhirnya pada tahun 90, tujuh orang penduduk dusun Batiro yang sering mencari kayu di hutan menemukan pertama kalinya dan menyebutnya sebagai Leang Leaputte karena terletak di puncak bukit Leaputte. Perjalanan menuju gua ini memakan waktu 4 jam jalan kaki, naik turun bukit serta menerobos hutan yang cukup lebat dan melewati jalan setapak yag mtidak mudah dikenali karena jarang dilewati manusia. Pada waktur pertama kali melihat Leang Leaputte, semua anggota tim APS histeris, karena sebelumnya mereka belum pernah melihat lubang sebesar ini. Dengan bentuk lobang lonjong, diameter pendek 70 meter dan diameter panjang 100 meter, berarti hampir dua kali ukuran Luweng Ombo. Leang Leaputte secara keseluruhan berbentuk seperti gentong dengan asar mirin dan dilapisi debu setebal 10 cm. Pada bagian lain, dasarnya dasarnya tanah dan penuh dengan runtuhan batuanm, ditumbuhi tanaman sejenis lompong, pakis, dan sulur-suluran. Yang turun ke dasar hanya 3 orang, yaitu Didier, Maxient, dan Bagus, melakukan pemetaan dan pengamatan. Pada dindin sebelah timur, terdapat sebuah aven (jendela) yang menembus keluar, sedangkan pada dinding Barat terdapat mulut gua pada ketinggian 75 meter dari dasar. Setelah dilakukan pengukuran, diperoleh data titik terdalam adalah 263 meter dari mulut sumuran. Jalur turun, single pitch, adalah 230 meter. Luas dasar 4x luas lapangan sepak bola, dan volume Leang Leaputte adalah 3.089.000 m3. Kemudian, oleh HIKESPI, Leang Leaputte ini diakui oleh HIKESPI sebagai sumuran terbesar dan terdalam (single pitch) di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara belum ada sumuran sebesar ini.  Gua Salukkan Kalang Gua Salukkan Kalang panjangnya mencapai 12.000m, merupakan gua terpanjang di Sulawesi Selatan berupa sungai bawah tanah. Di gua ini hanya dilakukan eksplorasi sambil mencari lorong-lorongbaru. Gua Sumpang Bita Gua prasejarah ini terletak di Balocci Baru. Memiliki peninggalan berupa gambar-gambar babi rusa, anoa, tapak-tapak tangan, dan perahu. Kelanjutan dari Ekspedisi Indonesie’92 ini adalah adanya pertukaran infromasi mengenai perkembangan kegiatan speleologi pada masing-masing tim. Khususnya bagi ASC merupakan keuntungan karena mendapatkan berbagai informasi mengenai teknik-teknik penelusuran gua yang lebih aman dan efisien. Dari sisi ilmiah, mendapat banyak masukan yang berharga dari ahli biospeleologi dan hidrologi yang ikut di ekspedisi ini. Anggota Ekspedisi Indonesie’92: 1. DR. Louise .B APS 2. DR. Phillipe Leclerc, APS 3. Didier Rigal APS 4. Christian .A APS 5. Daniel Dalger APS 6. J. Pierre Christopper APS 7. Maxient Lacas APS 8. Anne Bedos APS 9. Jocylene APS 10. Bagus Yulianto ASC 11. Basuki Agus Widodo ASC |